My Photo

September 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30        

Categories

Powered by Friendster Blogs

lost.....

Centuries passed and still the same
War in our blood, some things never change
Fighting for land and personal gain
better your life, justify our pain
The end is knocking
The end is knocking

We've all been lost for most of this life
(lost for most of this life)
Everywhere we turn more hatred surrounds us
And I know that most of us just ain't right
(most of us just ain't right)
Following the wrong steps, being led by pride

How many lives will we take
How many hearts destined to break
Nowhere to run, can't escape
Full of ourselves, tied to our fate
The end is knocking
The end is knocking, yeah

We've all been lost for most of this life
(lost for most of this life)
Everywhere we turn more hatred surrounds us
And I know that most of us just ain't right
(most of us just ain't right)
Following the wrong steps, being led by pride

With peace of mind so hard to find
We're dwelling on the drastic signs
Another way to numb our mind
And as you close your eyes tonight
and pray for a better life
you'll see it flying helplessly away

We've all been lost for most of this life
(lost for most of this life)
Everywhere we turn more hatred surrounds us
And I know that most of us just ain't right
(most of us just ain't right)
Following the wrong steps, being led by pride

Jujur saja, saya sedang tidak bisa mengungkapkan apa yang sedang saya alami dengan lidah dan kata-kata sendiri. Beberapa waktu lalu, saat mengerjakan laporan di kosan salah seorang kawan, saya menemukan Avanged Sevenfoold tengah bergemuruh dan menyanyikan kekosongan yang juga melanda saya akhir-akhir ini. Sebenarnya saya tidak begitu suka dengan beberapa lagunya. Tapi tidak untuk Lost. Terima kasih A7X. Setidaknya lagu kalian telah mewakili lidah saya. (hmmm.........gaya.........^_^)

                            

baru sampai pengantar saja....

Entah dengan motif seorang kawan meminjamkan Confession of Economic Hit Man pada saya setelah sebelumnya ia mengatakan ingin lebih banyak belajar tentang kapitalisme. Penasaran, tambahnya.

Sebagai orang yang hanya pernah mendapat kabar betapa menariknya buku tersebut, kontan saya senang mendapatkan tawarannya itu dan langsung meraihnya. Tentu saja dengan latar belakang yang sama dengan alasan kawan saya tertarik belajar kapitalisme: penasaran. Ya, saya penasaran semenarik apa buku yang kini tengah ada di tangan saya itu. Mungkin buku macam ini yang sekarang saya butuhkan. Sekedar mengasah kembali wawasan yang hampir berkarat sebelum akhirnya melepuh dan musnah, setelah selama ini saya betah bertamasya di dunia kata-kata bersayap, dunia fiksi.

Waktu menulis ini, saya baru membaca Kata Pengantar saja. Dan sampai di sana, tangan saya langsung gatal ingin menulis sesuatu. Mungkin serupa ungkapan antusias pada buku itu sekaligus luapan kekesalan saya pada sesuatu yang hendak menjadi tuhan bagi hidup manusia keseluruhan di dunia (kapitalisme global). –maaf- ANJRIT!!!

Jujur, saya sendiri miris. Betapa terlambat untuk mengetahui semuanya. Saya sendiri hendak mengenal betul apa yang sebenarnya membuat kekacauan dan keterpurukan saat ini ketika saya sadar bahwa saya sudah terperosok jauh ke dalam jeratannya. John Perkins benar adanya. Sistem ekonomi kapitalisme telah menciptakan sebuah ilusi yang selama ini sudah telanjur diamini oleh hampir seluruh manusia: semua pertumbuhan ekonomi bermanfaat bagi umat manusia ndan makin besar pertumbuhannya makin luas pula manfaatnya. Bullshit!

Hingga pada akhirnya, ketika kawan saya bertandang ke kamar, saya bilang padanya betapa suka saya pada bukunya itu dan berniat untuk memintanya. Dan kawan saya dengan lempengnya mengatakan: “Kok lu mau baca buku yang isinya penjajahan ke bangsa lu sendiri?”

Belum sempat saya menanggapinya, kawan saya sudah berlalu. Jika saya bertemu dengannya lagi, saya akan katakan: “Sepertinya bukan begitu caranya memperbaiki kehidupan, kawan. Tidak dengan menutup mata. Tidak dengan menutup telinga. Rasanya akan sia-sia dan kamu masih akan terjebak di dalamnya.”

Saya masih akan tetap berharap, kawan saya akan memberikan buku itu.

Semoga tidak ada kata terlambat untuk membuat hidup ini lebih baik. Ya, semoga saja. (sok pahlawan banget....haha! biarin)

GKPN, 21 januari 2008 12:08

malam itu...

 

Sebenarnya saya dapat informasi itu lebih awal, dari seorang kawan yang kamarnya sudah saya jadikan bioskop mini tempat saya memutar film-film yang saya sewa. Waktu itu saya hanya menjawabnya dengan gelengan dan sedikit berkata, “Ngga ah!” sambil tersenyum. Tapi setibanya di kosan, menjelang maghrib, teman kosan saya menawarkan hal yang sama dengan kawan saya sebelumnya: “Ikutan tarhib muharam yuk, Ren!”

Tarhibnya macam apa, Teh? Ada orasi, tabligh, atau yang sejenis itunya ngga?”, tanya saya sambil melepas kaos kaki bermaksud mengambil wudhu.

Ya biasa aja. Konvoi, pada bawa obor. Kalo orasi mah ngga tau tuh. Kayaknya mah sih ada. Ikutan aja yuk!”, ajaknya lagi.

Hehe....belum mandi euy, lagian belum sholat.”

Jujur, saya memang malas. Malas sekali. Namun akhirnya saya, yang tadinya memutuskan untuk tidak ikut, setelah tahu teman-teman kosan saya yang lain begitu setia menunggu saya selesai sholat, berubah pikiran. Sebetulnya saya memang berniat datang, namun tanpa ikut konvoi. Saya hanya ingin datang dan mendengar orasi/tabligh/sejenis itu pokoknya. Karena perasaan tidak enak, saya pun berangkat setelah selesai shalat maghrib. Itung-itung mengobati hidup yang akhir-akhir sangat datar, siapa tahu saya bisa menemukan kembali diri saya yang dulu di sana dan tertarik untuk menghampirinya kembali. Pikir saya waktu itu.

Tibalah saya di sebuah pasar tempat segerombolan orang berkumpul dengan membawa obor dan bendera hitam putih bertuliskan “Laa ilaaha illallaah muhammadurrasuulullaah”. Ada banyak orang yang saya kenal di sana. Beberapa kawan memanggil saya. Bersama itu, juga nampak senyum yang sumringah di muka-muka mereka. Senang atau mungkin menertawakan. Entahlah. Saya tidak tahu dan tidak mau tahu. Maklum. Sudah sangat lama saya tidak mengikuti kegiatan seperti itu bersama mereka. Terakhir kali, jika tidak salah, satu tahun yang lalu. Ah, malah lebih.

Konvoi pun dimulai. Sejauh barisan konvoi berjalan, tidak ada perasaan bangga (Hah? Bangga?) sedikitpun. Padahal saya sangat berharap banyak bahwa teriakkan takbir dan yel-yel yang bersemangat itu pun menggugah semangat saya dan membantu saya terangkat dari . Yang tersisa hanya gumam dan gumam bertumpuk dan bertumpuk. Hingga meledaklah dan seketika itu pula saya keluar dari barisan. Hendak pulang.

Terlepas dari pesan yang lantang disampaikan, saya pikir apa bedanya konvoi obor ini dengan perayaan tahun baru masehi kemarin. Konvoi massif. Tidak hanya ormas, tapi juga masyarakat sekitar. Berbondong-bondong membuat jalanan macet. Banyak sekali minyak tanah yang tumpah dari obor ke jalanan, sebanyak bambu-bambu yang begitu saja dibuang. Saya sendiri agak miris. Ketika di jalanan kota ini berceceran minyak tanah karena sekumpulan massa dengan pita suara hampir putus hanya karena berteriak “Syariah Tegakkan!” yang membawa obor, di sudut bumi lain, orang-orang lain, tengah mengantri untuk mendapatkannya. Yang membuat hati saya begitu berat lainnya adalah akibat konvoi, jalanan macet total. Entah apa kebutuhan orang-orang berkendaraan yang perjalanannya telah terhambat itu. Bisa jadi sangat penting. Bisa jadi lebih genting daripada propaganda penerapan aturan Islam yang selama ini selalu jadi kontroversi. Bagaimana tidak jadi kontroversi ketika propagandanya pun ternyata menghambat orang kebanyakan untuk memenuhi hajat hidupnya? Apakah ini wajah Islam yang katanya solusi permasalahan hidup?

Hhhhmmm.... Tuhan, betapa sulit untuk membuatku percaya pada kebenaran manusia. Dan malam itu, hari ke-9 bulan Januari, sekaligus malam pertama di tahun hijriyah yang baru, pukul 21.30 saya pun keluar barisan. Hendak pulang, berbekal gumam: “Semoga ini hanya terjadi di sini, di tempat ini.”

<GKPN, 20 Januari 2008....detik-detik menjelang adzan maghrib>

soliloqui...

Pada mulanya menyalahkan diri sendiri. Di penghujung 2007 lalu, sedikit pun saya tidak menyisakan satupun ingatan untuk dicatat sekedar penghalau lupa. Semua dibiarkan menguap begitu saja bersamaan dengan kesiur angin-angin dan berlalunya detik-detik. Hilang. Dan betapa bodohnya saya. Tapi biarlah. Karena pada akhirnya toh saya sendiri pun menemukan cara untuk tidak terlalu kecewa pada diri sendiri. Menghasilkan catatan bukan seperti menghasilkan sebuah produk makanan dan pakaian oleh pabrik-pabrik. Dan tentu saja saya sendiri bukan pabrik. Dan saya tidak mau menjadi pabrik yang hanya menghasilkan catatan tanpa penghayatan, tanpa rasa, dan oleh karena itu tanpa makna. Setidaknya itu yang bisa saya andalkan sebelum akhirnya pikiran terburuk dan terjauh untuk melakukan suicidal action muncul dan mendesak. O, demi Tuhan semoga itu tidak terjadi.

Jatinangor, 3 Januari 2008

(Sulit sekali membiasakan diri menulis angka 8 di ujung titimangsa?^_^)

apakah ini tentang cinta atau gumam saja?

Agak menggelikan memang. Apalagi jika berbicara cinta. Sesuatu yang selama ini terlalu malas untuk saya bahas. Tapi Pram telah membuatnya lain. Juga kawan saya. Semacam timbul dorongan entah macam apa yang membuat saya segera membuka New Document pada Microsoft Word dan menuliskan satu per satu huruf yang membentuk kata, lalu kalimat, dan mungkin makna.

Masih dengan kegelian yang sama tentunya, saya mengirimkan petikan kalimat yang diungkapkan Jean Marais pada Minke dalam Bumi Manusia. Begini petikannya.

Cinta itu indah, Minke, juga kebinasaan yang mungkin membuntutinya. Orang harus berani menghadapinya.

Lalu kawan saya membalas sms iseng saya beberapa saat kemudian.

Cinta indah sekali..tapi malam ini seperti tanpa rasa. Cinta tampaknya hanya kejutan-kejutan sesaat perasaan.

Tampaknya memang benar. Saya sepakat dengan kawan yang sangat saya kasihi itu, yang jauh di negeri tempat sejuta kesibukan bertumpuk bahkan tumpah ruah. Dan mungkin di tempatnyalah cinta juga dimaknai oleh beragam pandangan dan –tentunya- kepentingan. Atau mungkin juga tidak lebih banal dibanding negeri tempat saya mendapatkan udara yang masih gratis sejauh ini.

Saya pernah mengatakan cinta itu tai kucing beberapa tahun lalu di sebuah milis. Saya katakan itu sebagai bukti bahwa ternyata cinta memang menyebalkan adanya. Ialah yang telah membuat banyak orang menderita tanpa kepalang. Memunculkan terlalu banyak kerugian. Menjadi penyakit gila tersendiri bagi...ya bagi siapa saja tanpa pilah.

Seorang teman SMP saya pernah mengisahkan dirinya suatu ketika. Pacarnya, katakanlah begitu (laki-laki itu sudah menjadi suaminya sekarang), seringkali meminta ia membuktikan kecintaan teman saya itu padanya. Ia meminta bukti fisik. Katanya, sekedar ciuman saat di rumah hanya mereka berdua. Kontan saya agak terkejut dengan ceritanya. Sebagai orang timur, sebagai muslim, juga sebagai salah satu dari sekian orang yang besar di sebuah desa dengan nilai-nilai yang masih kokoh, tentu saya mengernyit dan bergumam dalam hati: sudah seperti itukah?

Salahnya waktu itu saya langsung kecewa pada teman saya. Sedikit melontarkan ungkapan-ungkapan ‘sinis’ padanya. Saya kesal. Itu jujur. Saya tidak pernah bisa memanipulasi kekesalan saya, sejak dulu. Sebenarnya waktu itu saya hanya ingin menunjukkan betapa peduli saya padanya. Ia adalah teman saya sejak kecil. Sejak saya mulai mengenal benda-benda. Sejak saya mulai sadar saya tidak suka bermain sendiri. Saya butuh orang lain untuk sekedar membuat saya tertawa, hingga menangis. Dialah teman saya itu. Dan tentu saja, saya sangat peduli padanya. Oleh karena itu saya pun menerbitkan kekesalan dan kekekecewaan padanya. Dimana jejak jerih payah kedua orang tuanya? Haruskah tertelan bulat-bulat hanya karena dia sekolah di suatu kota yang terkenal karena objek pariwisatanya yang sangat eksotik? Saya terbitkan rasa kesal dan dia merenggut. Pergi dan tak pernah lagi berkunjung, mengganggu saya yang sedang membantu ibu di dapur, juga tak pernah lagi bercerita.

Penyesalan dan kekesalan tak jadi soal saat ini. Yang membuat saya masih sangat heran adalah mengapa cinta harus ada? Dan sebegitukah besar dampaknya? Ternyata benar. Memang benar. Cinta bisa membuat segala yang tidak masuk akal menjadi rasional. Cinta telah membuat orang biasa menjadi pujangga. Cinta telah membuat orang normal menjadi gila, dalam pemaknaan yang relatif, tentunya. cinta telah membuat yang baik tampak buruk. Begitu pula sebaliknya. Cinta telah membuat segalanya bisa berubah. Saya pernah menangis dibuatnya. Hampir tiap malam. Keesokan harinya saya harus berani malu karena akan banyak orang yang melihat kelopak mata saya tidak normal. Membengkak. Gila. Semacam pengantar bunuh diri yang sangat profan. Dan itu sepintas saja.

Benar apa yang dikatakan kawan saya lewat sms-nya, cinta hanya letupan perasaan sesaat. Yang seketika juga bisa hilang. Indah memang. Tapi sayangnya hidup tak selalu memihak pada keindahan. Lihatlah hujan. Lihat pula angin. Lihat gunung-gunung. Lihat pula manusia. Sewaktu-waktu tampak begitu indah. Sewaktu-waktu tak berarti apa-apa juga. Sewaktu-waktu tanpa duga bisa jadi sangat menyeramkan dan menimbulkan kepedihan yang dalam.

Mana yang akan dipilih? Bebas saja. Namun seperlunya, saya kira. Dan, seperti yang dikatakan Jean Marais pada Minke, beranilah menghadapinya. []

GKPN, 9 november 2007 22:53-10 november 2007 00:15

akulah diam

Kau adalah kekesalan ufuk

yang tak lagi mampu

menampung senja bermega-mega

Kau adalah permukaan daun menguning

yang dicambuk pendar

matahari yang geram

Kau adalah batang nyiur

yang dipenggal

badai yang terusir dari padang ilalang di negeri seberang

Kau adalah tepi laut

yang dilupakan

ombak yang menyapa pasir dan bebatuan

Tapi tahukah kau siapa aku?

Akulah diam

Namun bukankah kau sudah harus tahu

bahwa aku hanyalah diam

yang telanjur berkarat dan sekarat?

Menggelayut pada dahan retak

di tubir jurang?

Ya, akulah diam,

tersuruk di celah belukar

dan kerap melenyap terkutuk seperti

kilasan kisah Ikarus,

Sisifus,

atau mungkin saja Prometheus

....bukan serupa Galih dan Ratna

Kawali 209, 17 oktober 2007

menggelisahkan kawan saya...

Perbincangan baru diakhiri pukul 01.50. Sekitar 1,5 jam setelah tanggal berganti dan hari kembali baru. Seorang kawan lama yang kini melanjutkan pengembaraannya di ibukota mengabarkan kemumetannya karena memikirkan sesuatu yang tampak urgen seiring bertambahnya bilangan usia. Jodoh. Hmhh...

Katanya ia kena hasut. Entah oleh siapa dan siapa saja, tak ia ceritakan. Namun hasutan itu telah membuat kawan saya begitu terguncang, sama terguncangnya seperti dulu, ketika keimanannya yang susah payah ia bangun bertegur sapa dengan realitas hidup. Atau jangan-jangan karena syawal ini begitu banyak yang mengkhatamkan lembaran lajangnya sehingga ia pun merasa terundang untuk melakukan hal yang sama?

Lagi-lagi entah, karena ia hanya bercerita kondisinya yang resah. Tanpa memberi tahu dengan jelas bagaimana sebabnya.

“Cieee... Ayo nikah aja! Ntar cariin buat saya.” Saya malah ikut-ikutan mengompori kawan saya sambil ketawa-ketawa. Ia tahu saya becanda. Ia juga tahu yang saya butuhkan sekarang adalah pekerjaan, bukan pasangan hidup.

Ia ikut tertawa. “Lagi ngga jelas nih maunya apa sekarang. Nyari laki-lakinya aja bingung, Ren.”

“Cari jodoh mah gampang. Tinggal bilang ke gurumu aja. Laki-laki juga segamreng. Yang cocok? Entah. Emangnya nikah itu harus berdasarkan kecocokan ya? Kalo gitu dimana belajarnya? Udahlah, nikah aja kalo emang udah siap.”

“Rencananya mah nikah dengan kesamaan pandangan, ternyata ga semudah itu. Guruku ngga mau ikut campur soal ini. Sulit tampaknya.. Harus nurunin ego nih.”

Nurunin ego sama dengan nurunin spesifikasi? Nurunin kriteria?”, tanya saya sambil terbahak. “Ah, masih banyak kok jalan menuju Roma, berbekal keyakinan jika sudah waktunya maka kita akan sampai di sana.... Kita?” saya baru ingat kawan saya itu selalu komplen dengan istilah ‘kita’ yang diucapkan tanpa kesepakatan. Sekedar membuat suasana tetap santai dan hangat, saya tawari ia segelas kopi. Sayangnya ia menolak karena namanya memang ada di antara sederetan kawan-kawan saya yang ‘against coffee if you want to become health’.

“Kayaknya ngubah kriteria deh,” jawabnya dengan sedikit merengut, “..jadi helpless gini. Kata-kata ‘semua ada waktunya perlu dipertanyakan lagi. Jangan-jangan waktu itu ada karena ada usaha, bukan waiting for godot...”

Kami diam sesaat. Saya kembali menekuri sisa kopi yang sudah dingin. Sudah mulai surut. Ampasnya sudah mulai terasa dan membuat saya sedikit nyengir karena rasanya yang pahit.

“Cape ya mikirin dan ngomongin ini. Lagian belum ada sinyal yang berarti. Bikin aku makin kurang gizi gara-gara banyak pikiran. Udah kayak profesor di kampusku, keningnya mengkerut terus.”

Saya menahan tawa. “Asal jangan ikut-ikutan botak aja. Hehe... Anggap aja malem ini awal dari sebuah ikhtiar mencari waktu yang entah tiba. Ya, anggaplah demikian. Ngga nunggu godot kan? Tapi nunggu laki-laki kan....yang tepat?”

“Ya iya lah. Nyari laki-laki yang tepat, bukan godot. Si godot mah ga dateng-dateng di akhir cerita. Semoga Allah memudahkan urusan ini. This is my last hope. I’m just like a desperate man hunter.”

“Waduh. Sadis amat. A desperate man hunter? Haha... tapi bebaskeun we lah. Saya sih cuma bisa bertaruh doa. Ngga lebih.”

Itu SMS terakhir saya sekaligus penutup perbincangan kami yang hanya melalui deretan huruf pada LCD ponsel. Terkirim tepat pukul 01.05 dini hari.

Setelah selesai membajak beberapa tulisan menarik dari Cerita Perempuan (kumpulan cerpen), saya kembali membuka-buka inbox dan sent items di ponsel. Pekerjaan yang biasa saya lakukan ketika sudah kehabisan akal untuk mengisi waktu senggang. Membaca kembali pesan-pesan yang masuk dan yang saya kirimkan. Saya baru sadar, ternyata sms saya tadi sangat mengerikan sekaligus menggelikan. Seolah-olah bijak, padahal ckck...permisi ah saya ke belakang dulu... (haha.......)

Terlepas dari itu, mungkin memang begitulah jodoh. Memunculkan kegelisahan bagi mereka yang tengah merasa ‘terdesak’ (jelek sekali padanan katanya). Naluriah. Buktinya kawan saya tadi. Ia sedang gelisah menanti jodohnya, menanti lelakinya, menanti nasibnya yang entah.

Adakah saatnya nanti saya juga akan mengalami hal yang sama dengan yang dialami oleh kawan saya?

Saya sendiri belum begitu paham. Saya enggan untuk memikirkannya. Mungkin karena saya telanjur dibingungkan dengan banyak tanya. Mengapa orang perlu menikah? Menikah karena apa? Cinta?? Kesamaan?? Kecocokan?? Kemanfaatan?? Ketepatan?? Chemistry?? Ataukah keterdesakan??

Au ah gelap... Fokus hidup saya sekarang bukan yang begituan. Biarlah. Mengalir. Menambah kegeraman bapak dan ibu saya yang usianya mulai senja dan selalu berkhayal menantikan kehadiran dua manusia baru di rumahnya. Mereka menyebutnya sebagai menantu dan cucu. Sedang saya lebih senang menyebutnya entah. ;-D

Begitulah...

----------------------

Jika saja kawan saya tahu bahwa ada segolongan orang (yang konon kalangan pejuang/revolusioner garda depan....permisi, ke kamar mandi lagi ah...) di sisi lain bumi ini yang mengatakan “perempuan adalah penghambat revolusi”, masihkah ia berhasrat untuk melanjutkan kegelisahannya? Mungkin lain kali perlu saya tanyakan .[]

GKPN, 7 November 2007 02:07-03:35

wiji thukul dan ketololan saya

Tak banyak yang saya tahu tentang seorang Wiji Thukul yang konon sangat melegenda. Saya baru mengenalnya setelah sebuah komunitas di kampus mengadakan sebuah acara beberapa bulan lalu. Di selasar menuju kampus, saya menemukan tidak sedikit propaganda tentang acara tersebut. Sebenarnya bukan propaganda acara, tapi propaganda sajak-sajak Wiji Thukul. Dari sekian banyak sajak yang saya baca sambil lalu, ada satu yang tak begitu asing buat saya. Sajak Suara.

Saya benar-benar tolol. Sudah sejak lama saya tahu sajak itu. Tapi sungguh, baru kali itu saya tahu ternyata Wiji Thukul yang menulisnya. Saya kira Sajak Suara adalah salah satu lirik yang sengaja dibuat ‘Ucok Sutresna’ :D untuk album terakhir Homicide, The Nekrophone Day. Perkiraan saya keliru seratus persen. Sungguh terlalu, kata Samin di Sinetron Si Entong.

Tapi sudahlah. Di bawah ini, saya menuliskannya kembali. Sekedar mewakili rasa bersalah saya pada Wiji Thukul dan terima kasih saya pada Homicide, juga karena memang sajaknya bagus.

Sajak Suara

sesungguhnya suara itu tak bisa diredam

mulut bisa dibungkam

namun siapa yang mampu menghentikan nyanyian bimbang dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku

suara-suara itu tak bisa dipenjarakan

di sana bersemayam kemerdekaan

apabila engkau memaksa diam

kusiapkan untukmu pemberontakan

sesungguhnya suara itu bukan perampok yang ingin meraih hartamu

dia ingin bertanya

dia hanya ingin bicara

mengapa kau kokang senjata

dan gemetar ketika suara-suara itu menuntut keadilan

seseungguhnya suara itu akan menjadi kata

dialah yang akan mangajari aku bertanya

dan pada akhirnya tidak bisa tidak

engkau harus menjawabnya

apabila engkau tetap bertahan

aku akan memburumu seperti kutukan

-wiji thukul-
(seorang penyair sekaligus seorang aktivis Buruh juga anggota PRD, yang sampai kini hilang sejak 1998)
----------
GKPN, 5 november 2007 01:18

cerita baru tentang bintang

Ternyata selama ini kita salah memahami bintang. Kita mengira teropong bintang adalah teleskop yang makin hari makin akurat kepekaannya. Ini dipercayai berabad-abad sampai akhirnya kita sadar, kepekaan adalah inti dari pemahaman bintang-bintang. Dan bicara soal kepekaan, apa yang lebih peka dari hati? Ternyata hatilah teropong bintang yang sesungguhnya, segumpal darah beku yang memahami jiwa, segemericik kehangatan yang bergetar terus. Kitapun paham sekarang, jiwa manusia seperti bintang di langit yang tak jelas batasnya.

Apa makna bintang?

Energi jutaan joule, sebuah pusat ledakan, cikal bakal hidup jutaan tahun?

Tentu itu bukan metafora yang tepat. Dan kita tak perlu tahu persis seperti apa bintang. Di sini, keindahan yang berperan, estetika setiap saat, setiap tempat. Logika telah tumpas dalam pertempuran panjang melawan keindahan. Keindahan dengan bajunya, estetika sang pesakitan, telah menundukkan logika dalam artinya yang terdalam. Pertempuran itupun telah jadi cerita rakyat, sebuah tanding pedang yang paling menakjubkan sepanjang peraadaban manusia.

Beginilah mereka berperang:

Logika yang sejak awal kemunculannya menghunus ketajaman tak bisa lagi mengabaikan keindahan yang menantangnya di ujung jalan. Pedang dan keindahan. Komposisi yang tak biasa. Tetapi di sanalah keindahan dengan wajah yang tetap sumringah, manis dan narsis. “Mari kita bertarung” katanya, tajam tapi hangat, tegas namun welas. Logika yang selalu tidak bisa dibantah, mencapai kemarahan puncak karena tantangan. Dia, keindahan yang tak berguna bagi kemajuan, menantangnya. Sebuah gendam kosong, kalam bolong, tua bangka yang pernah dibantainya dulu, kini tegak di depannya. Sialnya, logika tak pernah menyangkal keanggunannya, elegan yang tak congkak, keberanian yang mengharukan. Tapi kemarahan logika mengabaikannya. “Pedang yang telah terhunus ini harus meregasnya hinggaa tuntas. Tak ada lagi belas kasihan.” Logika, keaktifan yang tak tertandingi, memulai sayatan yang merobek ruang kosong. keindahan adalah segala kelenturan yang dimiliki para penari. Berkelit bukan hal yang asing baginya. Begitulah pertempuarna dimulai.

Pedang mereka pun berkilauan saling membentur (kilat seperti cahaya-cahaya yang meruntaskan itu, bukan sebaliknya. Kilat hanya mendesup pada hati, rurut yang tak mati, paralaks ala mimpi. Tapi pedang-pedang keagungan itu menyasap pesona, meruntuhkan ego sembari mengukir pesona baru). Dencing-dencing yang seperti Nietszche menggeram panembrama Dyon, kemabukan sekujur diri, keganasan seluruh nyali, kesesatan yang benderang, persetubuhan dengan perang, kehancuran gamblang, penciptaan yang gemilang.

Malam berganti, siang berganti, hingga jaman memihak pada keindahan. Lalu, logika kehabisan nafas, jelas keletihan itu berwujud meski pelan-pelan bergesernya. Pedang yang terasah puluhan abad dari bahan terhebat, rompal di sana-sini dan patah! (Begitukah nasib pikiran yang mengharuskan ketepatan dan kelurusan?) Keindahan, seperti sajak awalnya, piawai bermain dengan cahaya. Keindahan memberi kelenturan kenyal pada logam terkaku sekalipun. Keindahan mematahkan ketaatan dengan tarian yang membangunkan, tarian yang dibayangkan milik tuhan kaum bergerak, meloncat-loncat di pucuk-pucuk hidup, tentunya keabadian.

Logika tak mampu bertahan lama. Bajunya compang-camping dan darah menggerai ke segala arah. Luka-luka memporakporandakan wujudnya. Paradoks dan identitas yang tak lagi biner, epistimologi yang mengebiri dirinya. Logika menyerah. Bintang-bintang kini tak mampu digenggamnya. Dan seperti sehabis perpisahan teramat panjang, layaknya sahabat lama, keindahan dan bintang-bintang berpelukan. Dan keindahan mengirupi cahaya, mekar benderang dan terbentang. Dan bintang-bintang menghirup keindahan, membakar langit dengan simfoni. Harmoni sejuta bunyi.

Begitulah kisah bintang. Kisah lama yang jadi baru sebab telah kita lupakan hingga saat-saat terjepit memaksa kembali mengingatnya. Begitulah bintang sejak sedia kala. Begitulah hati memahami bintang-bintang.

--------------

[diambil dari buku Akademos, Bagus Takwin]

------------------------------------------------------------------------------------------

Buku Bagus Takwin pinjaman ini ternyata menarik juga (meski sampai sekarang belum juga tamat saya baca). Umm..isinya lumayan. Saya katakan lumayan karena bagi saya Goenawan Mohamad masih lebih segala-galanya dibanding penulis-penulis lain yang sempat saya baca tulisannya. Ya, setidaknya saya belum menemukan tulisan yang lebih dahsyat ketimbang yang ditulis oleh Paman Goen.

Beberapa kutipan sengaja saya cetak tebal. Entahlah, bagi saya kalimat-kalimat itu menarik. Mencoba merangkum dan mewakili beberapa pengalaman saya, yang mungkin juga mewakili pengalaman teman-teman lain. Ya, siapa tahu....

kebisuan

Inilah salah satu buah pikiran dari the greatest writer, GM

------------------------------------------------------------------------

Mungkin kita memang perlu mempelajari gramatikal kebisuan. Mungkin sesuatu tengah terjadi bila kata-kata berhenti dan keadaan berdiam diri tiba-tiba menengahi suatu dialog. Pada saat itu kita mungkin lengah taua tak peduli untuk menangkap maknanya. Atau kita cukup peka.

Komunikasi memang tak selamanya terjadi hanya karena dua mulut mencerocos bersahut-sahutan. Ada sesuatu yang disebut Ivan Illich sebagai “the eloquency of silence”, yakni kefasihan dari diam. “Kata-kata dan kalimat terdiri atas diam yang lebih bermakna daripada bunyi,” tulisnya dalam Celebration of Awareness.

Tak banyak pemikir yang melukiskan pengertian seperti itu dengan jelas, lebih jelas daripada Illich. Baginya, bahasa adalah ibarat seutas tali kebisuan, bunyi hanya menjadi simpul-simpulnya. Bahasa adalah ibarat sebuah roda: yang menjadi pusat adalah kata-kata yang terucapkan – tapi yang membentuk roda adalah justru ruang-ruang kosong di antara itu. “Pause-pause yang penuh arti, antara bunyi dan ucapan”, kata Illich pula, “menjadi titik-titik bercahaya dalam sebuah ruang hampa yang menakjubkan: bagaikan elektron dalam atom, seperti planet-planet dalam sistem tata surya.”

Sayangnya, tak selamanya kita berhasil mengangguk kepada diam. Bahkan kita mencoba menggantikan bahasa dengan cara-cara yang lebih riuh – misalnya kegemaran kita pada pengeras suara. Kita bukan saja telah tidak acuh kepada diam dan kebisuan, kita bahkan telah tidak begitu yakin bahwa kata-kata bisa bergerak sendiri dengan lirih. Seringkali kita mengagumi Trio Bimbo yang membikin lagu atas sajak-sajak Taufik Ismail. Tapi seringkali menyelinap dalam perasaan kita suatu rasa kurang enak, kata-kata puisi yang sebenarnya bisa berbisik sendiri itu telah berubah, dalam lagu yang disiarkan itu, menjadi kata-kata sebuah khotbah. Sang puisi tak lagi merupakan catatan kekaguman pada Tuhan, keindahan, dan lain-lain yang sifatnya “pribadi” – melainkan jadi terdengar seperti suara pengajar khalayak ramai.

Sebenarnya, bila kata-kata adalah bagian dari keberdiamdirian, yang terdengar bukanlah “ajaran” atau “kuliah”. Sebagian besar dari kebisuan, kata-kata merupakan bagian dari proses batin. Dengan demikian mereka merupakan bagian dari seluruh sejarah kepribadian kita. Kata-kata itu tak cuma menempel di bibir kita, dan karenanya tak kita harapkan akan bisa begitu saja menempel pada diri orang lain. Sebab mereka adalah bagian integral dari laku.

Manusia memang bukan kaset.

[GM, 11 Desember 1976]-diambil dari buku Kata Waktu:Esai-Esai Goenawan Mohamad 1960-2001