Perbincangan baru diakhiri pukul 01.50. Sekitar 1,5 jam setelah tanggal berganti dan hari kembali baru. Seorang kawan lama yang kini melanjutkan pengembaraannya di ibukota mengabarkan kemumetannya karena memikirkan sesuatu yang tampak urgen seiring bertambahnya bilangan usia. Jodoh. Hmhh...
Katanya ia kena hasut. Entah oleh siapa dan siapa saja, tak ia ceritakan. Namun hasutan itu telah membuat kawan saya begitu terguncang, sama terguncangnya seperti dulu, ketika keimanannya yang susah payah ia bangun bertegur sapa dengan realitas hidup. Atau jangan-jangan karena syawal ini begitu banyak yang mengkhatamkan lembaran lajangnya sehingga ia pun merasa terundang untuk melakukan hal yang sama?
Lagi-lagi entah, karena ia hanya bercerita kondisinya yang resah. Tanpa memberi tahu dengan jelas bagaimana sebabnya.
“Cieee... Ayo nikah aja! Ntar cariin buat saya.” Saya malah ikut-ikutan mengompori kawan saya sambil ketawa-ketawa. Ia tahu saya becanda. Ia juga tahu yang saya butuhkan sekarang adalah pekerjaan, bukan pasangan hidup.
Ia ikut tertawa. “Lagi ngga jelas nih maunya apa sekarang. Nyari laki-lakinya aja bingung, Ren.”
“Cari jodoh mah gampang. Tinggal bilang ke gurumu aja. Laki-laki juga segamreng. Yang cocok? Entah. Emangnya nikah itu harus berdasarkan kecocokan ya? Kalo gitu dimana belajarnya? Udahlah, nikah aja kalo emang udah siap.”
“Rencananya mah nikah dengan kesamaan pandangan, ternyata ga semudah itu. Guruku ngga mau ikut campur soal ini. Sulit tampaknya.. Harus nurunin ego nih.”
“Nurunin ego sama dengan nurunin spesifikasi? Nurunin kriteria?”, tanya saya sambil terbahak. “Ah, masih banyak kok jalan menuju Roma, berbekal keyakinan jika sudah waktunya maka kita akan sampai di sana.... Kita?” saya baru ingat kawan saya itu selalu komplen dengan istilah ‘kita’ yang diucapkan tanpa kesepakatan. Sekedar membuat suasana tetap santai dan hangat, saya tawari ia segelas kopi. Sayangnya ia menolak karena namanya memang ada di antara sederetan kawan-kawan saya yang ‘against coffee if you want to become health’.
“Kayaknya ngubah kriteria deh,” jawabnya dengan sedikit merengut, “..jadi helpless gini. Kata-kata ‘semua ada waktunya perlu dipertanyakan lagi. Jangan-jangan waktu itu ada karena ada usaha, bukan waiting for godot...”
Kami diam sesaat. Saya kembali menekuri sisa kopi yang sudah dingin. Sudah mulai surut. Ampasnya sudah mulai terasa dan membuat saya sedikit nyengir karena rasanya yang pahit.
“Cape ya mikirin dan ngomongin ini. Lagian belum ada sinyal yang berarti. Bikin aku makin kurang gizi gara-gara banyak pikiran. Udah kayak profesor di kampusku, keningnya mengkerut terus.”
Saya menahan tawa. “Asal jangan ikut-ikutan botak aja. Hehe... Anggap aja malem ini awal dari sebuah ikhtiar mencari waktu yang entah tiba. Ya, anggaplah demikian. Ngga nunggu godot kan? Tapi nunggu laki-laki kan....yang tepat?”
“Ya iya lah. Nyari laki-laki yang tepat, bukan godot. Si godot mah ga dateng-dateng di akhir cerita. Semoga Allah memudahkan urusan ini. This is my last hope. I’m just like a desperate man hunter.”
“Waduh. Sadis amat. A desperate man hunter? Haha... tapi bebaskeun we lah. Saya sih cuma bisa bertaruh doa. Ngga lebih.”
Itu SMS terakhir saya sekaligus penutup perbincangan kami yang hanya melalui deretan huruf pada LCD ponsel. Terkirim tepat pukul 01.05 dini hari.
Setelah selesai membajak beberapa tulisan menarik dari Cerita Perempuan (kumpulan cerpen), saya kembali membuka-buka inbox dan sent items di ponsel. Pekerjaan yang biasa saya lakukan ketika sudah kehabisan akal untuk mengisi waktu senggang. Membaca kembali pesan-pesan yang masuk dan yang saya kirimkan. Saya baru sadar, ternyata sms saya tadi sangat mengerikan sekaligus menggelikan. Seolah-olah bijak, padahal ckck...permisi ah saya ke belakang dulu... (haha.......)
Terlepas dari itu, mungkin memang begitulah jodoh. Memunculkan kegelisahan bagi mereka yang tengah merasa ‘terdesak’ (jelek sekali padanan katanya). Naluriah. Buktinya kawan saya tadi. Ia sedang gelisah menanti jodohnya, menanti lelakinya, menanti nasibnya yang entah.
Adakah saatnya nanti saya juga akan mengalami hal yang sama dengan yang dialami oleh kawan saya?
Saya sendiri belum begitu paham. Saya enggan untuk memikirkannya. Mungkin karena saya telanjur dibingungkan dengan banyak tanya. Mengapa orang perlu menikah? Menikah karena apa? Cinta?? Kesamaan?? Kecocokan?? Kemanfaatan?? Ketepatan?? Chemistry?? Ataukah keterdesakan??
Au ah gelap... Fokus hidup saya sekarang bukan yang begituan. Biarlah. Mengalir. Menambah kegeraman bapak dan ibu saya yang usianya mulai senja dan selalu berkhayal menantikan kehadiran dua manusia baru di rumahnya. Mereka menyebutnya sebagai menantu dan cucu. Sedang saya lebih senang menyebutnya entah. ;-D
Begitulah...
----------------------
Jika saja kawan saya tahu bahwa ada segolongan orang (yang konon kalangan pejuang/revolusioner garda depan....permisi, ke kamar mandi lagi ah...) di sisi lain bumi ini yang mengatakan “perempuan adalah penghambat revolusi”, masihkah ia berhasrat untuk melanjutkan kegelisahannya? Mungkin lain kali perlu saya tanyakan .[]
GKPN, 7 November 2007 02:07-03:35
Recent Comments